Archive for Maret 2017

ReRe (Renata and Reihan)

"Ku dengar hari ini Reihan sedang latihat basket" ucap Katelyn.

"Benarkah? Ayo kita pergi!" Ajak Renata antusias. Sekarang ini mereka berdua sedang ada di kantin sekolah. Reihan adalah orang yang populer di sekolah mereka dan orang yang sangat dicintai oleh Renata, meski sudah dibuat nangis ribuan kali oleh sikap dingin dan cueknya Reihan tetap saja Renata masih terus mengejar dan mencintainya.

"Nanti sajalah! Selesai makan, aku sangat lapar tahu!" Katelyn masih terus makan, tak memperdulikan bahwa orang yang di depannya memasang wajah masam.

"Lyn ayolah.... kapan lagi lihat Rei ku tercinta main basket?" Renata memasang puppy eyes andalannya.

Melihat wajah Renata yang seperti ingin menangis Katelypun tak tega "hah baiklah ayo kita kelapangan basket untuk melihat Rei-mu tercinta bermain."

"Yeeeyyyyy" karna saking semangatnya Renata jalan ralat lari duluan ke lapangan basket sekolah.

'Cih hanya untuk cowo yang menyebalkan sahabatku sampai seperti itu! Padahal kan Rena bukan siapa-siapanya si Rei!.' Batin Katelyn "hah nyesel aku bilang kalo si rei main. Jadi ketunda kan makannya! Sabar yah cacing nanti kita makan lagi!!" Gumam Katelyn miris melihat makanan yang di pesannya hampir masih utuh!.

"LYN... !! CEPAT AYOO... !!" Katelyn mendengus mendengar teriakan membahana Renata.

Mereka pun berlari ke lapangan basket, lebih tepatnya hanya Renata yang berlari Catlyn hanya berjalan santai...

"KYAAAA REII. REEEIII SEMANGAT" teriak renata.

"Rena jangan teriak - teriak seperti itu! Telingaku sakit bodoh!" Katelyn menjitak Renata, Yang di jitak pun hanya memajukan bibirnya.

"Catlyn,, Renata,," teriak Citra salah satu teman mereka.

"Citraaa" Renata melambaikan tangannya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Citra yang sudah berada di depan mereka.

"Tentu saja melihat yayang beb ku di sana" Renata menjawabnya dengan percaya diri.

"Memangnya kau sudah resmi jadi pacarnya reihan?" Citra bertanya dengan polosnya.

"Hahaha yahh tentu saja.... belum!" Renata menjawab dengan semangat dan lesu di akhir kalimat.

"Hahaha yang sabar yahh,,, kamu hebat loh Ren hanya untuk Reihan kamu menunggu hampir satu tahun."

"Hehe iya dong, Rena kan orang yang setia" Renata menjawab dengan percaya diri.

'Yah dan termasuk orang bodoh! Menunggu tanpa kepastian bukannya berhenti malah terus di kejar! Padahal kan sudah di anggap hama oleh orang yang di cinta' batin Katelyn dan Citra. Sebenarnya mereka berdua sudah berusaha membuat Renata melupakan Reihan dan itu semua selalu berakhir dengan percuma.

"Kyaa Reiiiii!!!" melihat bahwa pertandingan telah usai Renata menghampiri Rei yang sudah keluar dari lapangan.

Reihan menengok ke arah Renata yang datang menghampirinya "hai Reii pertandingan mu hebat lohh" Renata sudah berada di depan Reihan.

"Hm."

"Rei masa jawabnya singkat banget sih!."

"Hmm."

"Reiii."

"Cih. Ada apa!?" Renata hanya menggeleng tersenyum.

"Sana pergi! Aku ingin istirahat! Dan jangan ganggu!!" Reihan meninggalkan Renata sendirian.

"Reii" lirih Renata melihat Reihan mulai mejauh.

"Rena! Kau baik - baik saja?" Katelyn khawatir melihat apa yang tadi terjadi. Karena itu dia dan Citra pun menghampiri Renata.

Renata menggeleng dan menjawab dengan ceria "aku tak apa apa kok! tenang saja aku kan sudah biasa di perlakukan seperti itu! Aku ini udah tahan banting loh haha."

Katelyn dan Citra miris mendengar suara getir Renata. Suara yang ingin menangis tapi mencoba untuk tetap ceria.

Mereka bertiga pun memutuskan untuk kembali ke kelas!

***

Kringg...

"Astaga sekarang sudah jam 06.20! Mati aku" Renata berlari ke arah kamar mandi.

Setelah semua sudah selesai Renata pun turun untuk sarapan bersama.

"Pagi ayahhh, ibuuu, kak David, kak Dirgaa" sapa Renata dan duduk di samping dirga.

"Pagi sayangg,,, ingin sarapan apa? Roti atau nasi?" Riska itu adalah nama ibu Renata.

"Roti aja bu" jawab Renata dan Riska pun membuatkan apa yang ingin Renata makan.

Mereka pun sarapan dengan di isi oleh keberisikan antara David, Dirga dan Renata. Daniel hanya menggeleng melihat sikap ketiga anaknya.

Setelah sarapan selesai Renata pun berangkat dengan di antar oleh Dirga. Hanya membutuhkan 25 menit untuk sampai di sekolah jika mereka menggunakan motor sport milik dirga.

"Jangan nakal yah" Dirga mencium kening Renata saat sudah turun dari motornya.

"Iya kak" Renata tersenyum manis pada Dirga.

"Kaka berangakat dulu yah sayang.. byee" Renata melambaikan tangannya saat melihat motor Dirga yang mulai menjauh.

"Nananana" senandung Renata di sepenjang perjalanan menuju kelas.

"Pagi Lyn sayang" sapa Renata tersenyum manis.

"Pagi juga Rena" jawab Katelyn.

Bel berbunyi menandakan pelajaran akan di mulai. Tak lama sang guru pun datang dan memulai pelajaran.

Skip Time.

"Kalian ingin makan apa?" Tanya citra pada kedua temannya. Saat ini mereka tengah berada di kantin.

"Aku salad buahh dan es jeruk yahh" jawab Rena.

"Aku samain aja."

"Oke berarti tiga salad buah dan tiga es jeruk" Citra pun pergi untuk memesan makan mereka.

"KYAAA REIHAN"
"REIHAN MAKIN GANTENG AJA"
"KYAAAAA"

Seperti biasa setiap tim basket A.K.A Reihan dkk datang selalu seperti itu. Banyak teriakan - teriakan dari penggemar mereka terutama Reihan.

"Mereka lagi" Katelyn memasang wajah masam berbeda dengan Katelyn, Renata memasang wajah senang bahkan sangat senang.

"KYAAAA REIHAN" teriak Renata antusias.

'Yah nambah satu orang lagi yang setres' batin Katelyn.

"Hei di sana saja!" Ajak teman Reihan yang bernama Billy, menunjuk ke arah meja Renata.

"Ayoo" Andika menyertujui ajakan billy. Mereka pun langsung ke arah meja Renata.

"Haii Rena,Lyn. Apa kita boleh duduk di sini" Renata mengangguk senang. Mereka pun mendudukin tempat kosong di meja itu.

"Makanan kalian mana?" Tanya kelvin. Pada saat Renata ingin menjawab..

"Maaf lama. Ini makanan kalian" Citra membagikan makanan milik Renata dan Katelyn.

"Terima kasih" jawab Renata dan Katelyn.

"Sama sama. Hmm kenapa meja kita jadi ramai?" Citra bingung melihat mejanya yang tadi kosong tapi sekarang penuh dan hanya tesisa satu bangku di samping Billy.

"Haii Rara sayang" sapa billy. "Sini duduk di samping abang" Renata terkikik geli mendengarnya.

"Sayang - sayang sejak kapan kita jadian hah!" Tanya citra kesal.

"Sejak saat aku manggil kamu sayang~" jawab billy lembut.

"Hahaha" tawa Renata pecah melihat drama yang ada di hadapannya. Para cowo yang duduk di meja itu terpana dengan kecantikan Renata saat dia tertawa. Tak terkecuali Reihan.

"Ada apa?" Renata berhenti tertawa. Dan di jawab gelengan oleh yang lain.

Mereka pun mulai untuk makan siang yang di isi oleh rayuan Renata pada Reihan dan keberisikan Billy dan Citra.

"Ngomong - ngomong boleh aku bertanya." Kelvin untuk petama kalinya berbicara yang sejak tadi hanya diam. Di jawab anggukan oleh Katelyn.

Kelvin pun bertanya "Sejak kapan kalian berteman?."

"Hmm kapan yah? Aku lupa" Renata menjawab "Lyn sejak kapan?"

"Dari kecil" jawab Katelyn singkat.

"Ohh iya dari kecil. Kami berteman di karena orang tua kami bertiga pun berteman" jelas Renata.

"Ohh gitu." Kelvin mengangguk.

"Reii apa kau ingin makan lagi?" Tanya Renata pada Reihan.

"Tidak."

"Ish kebiasaan deh! Jawabnya jangan singkat dong."

"Hm."

"Huh malah makin singkat" gumam Renata.

"Bisa diam gak!?" Bentak Reihan. Renata pun diam karena kaget. tiba - tiba hawa di meja tersebut pun menjadi tegang.

Katelyn yang melihat tersebut pun mulai marah, begitu pula dengan Citra dia merasa darahnya mendidih.

Katelyn membanting sendok dengan kencang "Aku selesai! Rena ayo kita pergi! Citra!" Katelyn berkata dengan dingin lalu berjalan lebih dulu.

"Ayo Rena!" Citra menarik tangan renata. Tanpa mendapat penolakan apapun dari Renata.

"Kau berlebihan!" Andika membuka suara saat Katelyn dan yang lain sudah pergi.

"Apa?"

"Aku tau kau menyukai bahkan mungkin mencintai Rena!" Lanjut Andika.

"Cih jangan sok tahu!"

"Iya kau mencintai Rena hanya saja kau malu mengatakannya" Kelvin juga menyetujui apa yang di katakan oleh Andika.

"Kau tahu!? Harga dirimu dan gengsi mu yang besar itu lah yang menjadi kelemahan mu!" Billy berkata dengan cuek sambil terus makan.

"Jika kau terus menyangkalnya maka bersiaplah Rena akan ku rebut! Kau tahu bukan selama ini aku menyukainya. Hanya demi kebahagiaannya bahkan aku rela dia untukmu! Jika kau menyia - nyiakan dia, maka aku akan merebutnya dari mu" Reihan melotot mendengar apa yang di katakan oleh Randy.

"Aku setuju dengan Randy. Rena pantas untuk mendapatkan yang terbaik. Untuk apa orang yang terbaik jika tak bisa menghargainya" kata Andika tegas.

"Beruntunglah orang yang kau cintai mencintaimu! Tidak seperti ku Raraku sayang tak mencintaiku huhu" ungkap billy dramatis.

"Baper mode on" gumam kelvin.

****
Esoknya.
"Kau tahu? Ku dengar di sekolah kita mendapat murid baru! Dan dia itu berada di kelas sebelah" Citra memulai kebiasaannya yaitu ngegosip.

"Apa hubunganya dengaku" tanya Renata polos.

"Aduh Ren punya otak jangan lola - lola amat napah!" Citra mulai kesal dengan tanggapan Renata. (Ps : loading lama)

"Bukan Renata yang lemot! Tapi kamu yang bodoh! Memang apa hubungannya anak baru itu dengan kita?" Bela katelyn membuat Renata tersenyum senang karna tau dia tidak lemot.

"Masalahnya gadis itu adalah mantan pacarnya Reihan" Katelyn melotot tapi Renata..
"Ohh" 1...2...3 Renata masih belom sadar.
4...5...6 masih belom peka.
7...8 dan hingga...

"AAPAAAAA..... !?" Teriak Renata dramatis.

'Telat amat kagetnya' batin Katelyn dan Citra berbarengan.

"Aduhh gimana dong kalo Rei-ku tercinta ke cantol lagi??"

"Ya udah kamu mendingan berhenti untul mengejarnya! Masih banyak cowo kok" usul Katelyn dan di setujui dengan anggukan oleh Citra.

"Kau benar" Katelyn dan Citra pun tesenyum mendengar itu. "Aku tak boleh menyerah cinta itu harus di perjuangkan!" Ucap Renata semangat yang membuat senyum Katelyn dan Citra luntur.

'Punya temen kok bodohnya keterlaluan' Batin Catlyn.

'Hah~Aku takut kamu terluka semakin dalam rena! Kenapa harus tetap berusaha?' Batin Citra.

Skip Time.

"Wanita itu siapa sih!! nempel terus sama yayang Rei" Renata kesal melihat seorang wanita yang memeluk tangan Rei sambil terus jalan.

"Ohh itu,, dia yang aku bilangin tadi loh" Citra menjawab. Katelyn yang tadi cuek pun menengok ke arah yang sama dengan apa yang kedua temannya lihat.

Hati Renata panas
"Hei kau! Menjauhlah dari Rei! Dia itu milikku.. " teriak Renata. diam - diam Rei tersenyum mendengarnya.

Renata menghampiri mereka dan menarik Rei paksa ke sampingnya "siapa kau!!?"

Dengan percaya diri renata menjawab "Kau bertanya siapa aku? Aku Renata Angelia!! Aku ini calon pacarnya reihan!."

"Cih baru calon! Aku ini pacarnya"

"Hah pacar... ? Yang benar saja! Mantan kali" sindir Renata.

"Kau!!! Kau itu hanya..."

"Hanya apa?" Tanya Reihan datar "pergilah! Aku muak melihat mu Intan!" Usir Reihan.

"Iya sana pergi hush~hush~" Renata mengibaskan tangannya seperti mengusir hewan.

"Awas kau! Akan ku balas" ancam Intan lalu pergi di ikuti oleh ketiga temannya.

"Reiii~ apa kau tak apa?" Tanya Renata.

"Hm" jawab Reihan lalu pergi ke teman - temanya.

"Apa harus sesulit ini yah?" Guman Renata.

Renata pergi kembali ke mejanya di mana ada Katelyn dan Citra sedang memperhatikannya.

"Udah acara bela - belaannya?" Tanya Katelyn yang di jawab anggukan lesu oleh Renata.

"Sudahlah. Ren ayo lanjutin makannya" Citra mencoba untuk mengakhiri. Renata pun duduk dan mulai makan. Mereka semua makan dalam keheningan..

"Aku ke toilet dulu yah" Renata memecahkan keheningan. Setelah mendapat jawaban ia pun bangun dan pergi ke toilet.

"Sakit sekali" Renata kini berada dalam toilet. Dia mencuci muka untuk mencoba menyegarkan wajahnya.

"Wah-wah coba kita lihat siapa yang ada di dalam toilet! Sendiri pula" Renata menengok ke arah suara tersebut.

"Ohh kau rupanya!" Ucap Renata melihat siapa orang yang bicara tadi.

"Haii kita ketemu lagi dalam waktu tidak lebih dari dua jam" dan ternyata orang tersebut pun Intan.

"Heh bosan aku melihat wajahmu yang menjijikan itu!" Renata pun memasang ekspersi jijik.

"Sombong sekali kau! Girls pegangin dia" perintah Intan pada teman temannya. Mereka pun memegangi Renata dan mendapat berontakan dari Tenata.

"Apa yang ingin kau lakukan jalang!" Geram Renata.

PLAKK.
Intan menampar Renata dan memegang pipi Renata dengan tangannya yang mengakibatkan pipi Renata lecet karena kukunya.

"Jauhi Reihan! Jika kau ingin selamat maka jauhi dia!!" ancam Intan.

"Kau siapa? Memangnya siapa dirimu yang melarangku" Renata berkata dengan nada mengejek. "Aku bukan orang bodoh yang akan menuruti semua keinginanmu!"

Untuk kedua kalinya Renata mendapat tamparan di pipi kirinya dari orang yang sama.

"Jauhi dia! Atau kau akan sengsara! Ayo girls" intan dan teman-temannya pun pergi meninggalkan Renata sendirian di dalam toilet.

"Hiks. Hiks" Renata menangis dalam kesendirian 'aku harus kuat! Rena itu kuat! Untuk apa aku ahli beladiri jika aku akan jatuh hanya karena ini!' Batin renata. Renata pun keluar dari toilet menuju kelas, karna dia yakin teman temanya pasti sudah kembali ke kelas.

"Kenapa lama sekali? Kupikir kau tidur di toilet" Renata hanya tersenyum manis mendengar perkataan Katelyn.

Katelyn kaget melihat pipi Renata, tetapi ia memutuskan untuk diam sebelum Renata sendiri yang bicara.

***

Hari demi hari pun berlalu. Selama itu pula setiap Renata sendiri ia selalu mendapat siksaan dari Intan dkk. Yah pastinya karena dia masih tetap mendekati Reihan.

Saat ini Renata berada di ruang ganti karna memang dia telah olahraga. Saat memasuki ruang ganti dia tak melihat ada orang di sana hingga.

Brak. Cklek.
Bunyi pintu tertutup dan di kunci.

"Kau itu tak pernah mendengar yah? Atau kau tuli hem? Ini sudah berapa kalinya yah aku memperingatimu?" Intan berkata dengan nada mengejek.

"Apa yang ingin kau lakukan padaku? Memberiku bubuk gatal? Mengoresi kulitku dengan pisau? Melempariku dengan bubuk cabai? Semua itu sudah kau lakukan bukan? Kali ini apa?" Tanya Renata menantang.

"Tan sombong banget ini bocah? Kita mulai aja! Gimana?" Salah satu teman Intan bertanya.

"Perang di mulai girls" Intan melemparkan telur ke arah Renata yang tepat mengenai bajunya, dan di susul oleh lemparan telur lainnya.

Mereka terus melempari naruka dengan telur, air, minyak dan terakhir dua ember yang lumayan besar berisi tepung di siram ke Renata dari arah belakang, tanpa mendapat perlawanan apapun dari Renata.

"Cukup girls" Intan pengangkat telapak tangannya. Mereka pun menghentikan melempari Renata dengan telur.

"Untuk terakhir kalinya aku memperingati mu jauhi Reihan!" Acam intan lalu pergi dan diikuti oleh teman temannya.

"Hiks hiks... ibu,,, huaaaa" tangis Renata pun pecah. Setelah beberapa menit menangis di dalam kesendirian renata pun keluar.

Sepanjang melewati koridor Renata terus menunduk membuatnya menjadi pusat perhatian dan mendapatkan tatapan jijik ataupun sinis dari seluruh siswa.

Hingga akhirnya tanpa sengaja Renata menabrak seseorang.

"Ren~ apa yang terjadi padamu?" Untuk pertama kalinya Reihan khawatir pada orang lain.

Renata tersenyum miris mendengar kekhawatiran Reihan.

"Kenapa rei?" Tanya Renata lirih dan mengangkat kepalanya.

"Kenapa?" Tanpa sadar air mata Renata pun kembali menetes.

"Renn~"

"Kenapa kau khawatir di saat aku seperti ini? Apa aku harus terluka terlebih dulu untuk mendapatkan perhatiaanmu? Apa kesalahanku?"

"Apa harus sesakit ini hanya untuk mencintaimu? Apa harus sehancur ini menyayangimu? Apa harus seperih ini berada didekatmu?"

"Jawab pertanyaanku Rei jawab! Ibuku pernah berkata 'jika kau menyukai atau mencintai seseorang kau harus memperjuangkan mereka! Apapun yang orang lain katakan tetaplah berjuang dan karna kau tau apa yang terbaik untukmu!' aku terus berjuang"

"Aku terus berusaha meski setiap hari aku harus mendapat cacimakimu! Hinaanmu! Kau tau kenapa? Karna aku percaya suatu saat kau akan melihatku dan mencintaiku"

"Aku lelah Rei. Aku bukan wanita yang hatinya terbuat dari baja yang tahan banting! Aku tetap tersenyum meski hati ini Rei. Meski hati ini MENANGIS. Aku menyerah! Yah aku menyerah" Renata mengungkapkan semua apa yang di tahan dalam hatinya selama ini. Mengungkapkan semua perasaan sakit yang di pendamnya. Renata pun berjalan kembali meninggalkan Rei. Rumah adalah tempat pertama yang menjadi tujuannya sekarang.

"Renata... maaf..." lirih Reihan menatap sendu kepergihan Renata.

***

Setelah hari itu hati Renata mulai membaik dan dia pun selalu menghindari Reihan. Tak ada lagi Renata yang ceria dan berisik yang ada hanya Renata yang pendiam. Reihan pun mulai merasa kehilangan.

"Ren kita perlu bicara!" Reihan menghalangi Renata yang ingin masuk ke kelas. Saat ingin menjawab Renata sudah lebih dulu di tarik ke atap oleh Reihan.

"Apa - apaan kau! Menjauhlah dariku!" Renata berbalik dan ingin pergi akan tetapi tangannya di pegang erat oleh Reihan dan di tarik olehnya, Yang menyebabkan Renata oleng dan jatuh di pelukan Reihan.

"Maaf Ren~ maaf. Aku gak bermaksud untuk menghina mu aku hanya bingung apa yang harus ku katakan. Aku senang saat melihatmu datang! Aku senang saat kau membelaku, aku senang saat kau memperjuangkanku. Aku sayang padamu ren... bahkan cinta padamu" Reihan menangis di pundak Renata. 'yang kau katakan apa itu benar Rei?' Batin renata.

"Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan mu lagi Ren ku mohon kembalilah ke sisiku lagi. Aku ingin kau kembali sebagai kekasihku Ren. Kita mulai semuanya dari awal, apa kau mau?" ungkap Reihan bersungguh - sungguh. Renata melihat tatapan tulus dari Reihan pun mengangguk.

"Iya Rei aku mau kok. Aku juga masih sayang sama kamu" mendengar itu Reihanpun tersenyum. Lalu mendekatkan wajahnya pada Renata dan mencium bibir Renata dengan lembut.

"Hhmpp Rei, REI" teriak renata menghentikan ciuman manis mereka.

"Apa?" Tanya reihan polos.

"Aku tak bisa bernafas! Kau menciumku terlalu bersemangat sekali" Reihan terkikik mendengar ucapan Renata.

"Iya iya maaf yah sayang. Bisa kita lanjutkan?" Perkataan Reihan membuat wajah Renata memerah.

"Tidak" Renata mencoba kabur dari ciuman maut Reihan. Akan tetapi gagal karena lagi-lagi tanfgan renata di genggam dan di tarik.

"Mau kemana sayang?."

"Hhmm ano it..." ucapan Renata terputus oleh ciuman mendadak dari Reihan. Setelah lumayan lama renata pun membalas ciuman dari Reihan. Mereka terus berciuman mesra tanpa memperdulikan hal - hal yang lain.

TAMAT.




- Copyright © Tia lies - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -